Pesantenanpati.com – Tubuh manusia terdiri sekitar 60 persen dari air, sehingga keseimbangan cairan sangat penting untuk menjaga fungsi organ tetap optimal.
Ketika tubuh kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, dampaknya tidak hanya membuat haus, tetapi juga memengaruhi kinerja otak, jantung, dan sistem metabolisme secara keseluruhan.
Menurut Mayo Clinic, dehidrasi terjadi ketika jumlah cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak dibandingkan yang masuk, baik melalui keringat, urine, maupun pernapasan. Tanda awal kekurangan cairan biasanya berupa rasa haus berlebihan, bibir kering, dan urine yang berwarna pekat.
Namun, jika kondisi ini dibiarkan, gejalanya bisa berkembang menjadi pusing, kelelahan, kulit kehilangan elastisitas, hingga detak jantung meningkat. Dalam kasus yang lebih parah, dehidrasi berat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah dan gangguan kesadaran.
Untuk mencegah dehidrasi, penting untuk memperhatikan asupan cairan setiap hari. Harvard T.H. Chan School of Public Health merekomendasikan konsumsi air putih sekitar 2 hingga 2,5 liter per hari, tergantung pada aktivitas dan kondisi lingkungan.
Selain dari air putih, cairan juga bisa diperoleh dari makanan seperti buah-buahan dan sayuran yang tinggi kadar air, misalnya semangka, timun, dan jeruk. Selain itu, hindari terlalu banyak minuman berkafein atau bersoda karena dapat mempercepat pengeluaran cairan melalui urine.
Ketika cuaca panas atau sedang berolahraga, tingkatkan konsumsi air untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Mengenali tanda-tanda dehidrasi sejak dini membantu mencegah komplikasi kesehatan yang lebih serius. (*)










