Pati, Pesantenanpati.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, Provinsi Jawa Tengah, tengah melakukan pengupayaan penyelamatan tanaman padi seluas 1.538 hektare di sepanjang aliran Sungai Silugonggo, kawasan Kecamatan Juwana, yang dilaporkan terdampak kekeringan.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, ribuan hektare luas tanaman padi tersebut berdasarkan pada pemantauan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL), yang tercatat per 27 Agustus 2026.
“Berdasarkan pemantauan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) per 27 Agustus 2026, tercatat 2.655 hektare tanaman padi terdampak kekeringan. Dari luasan tersebut, sebanyak 1.117 hektare telah mendapatkan penanganan melalui penggelontoran air,” jelas Ratri.
Pada penjelasannya, kondisi kekeringan tersebut terjadi karena Bendung Karet Kembang Kempis yang ada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, saat ini dilaporkan sedang tidak bisa mendapatkan pasokan air yang cukup.
“Bendung Karet selama ini mendapatkan suplai air dari empat sumber, mulai dari Waduk Kedungombo, Logung, Gunung Rowo, dan Gembong,” katanya, Kamis (03/09/2026), dikutip dari Antara News.
Meski sejumlah upaya sudah dilakukan sejak 30 Juli 2026 dengan meminta perpanjangan waktu aliran air irigasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, namun penggelontoran tersebut ternyata hanya mampu menjangkau delapan dari total 29 desa yang terdampak kekeringan, dengan luasan hamparan sekitar 1.117 hektare.
“Masih ada 21 desa yang terdampak kekeringan dengan luas tanaman padi 1.538 hektare yang masih membutuhkan penanganan,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Pemkab Pati bersama dengan sejumlah pihak terkait mendorong adanya percepatan pembukaan kembali Waduk Kedungombo, yang telah dijadwalkan pada 15 September 2026 mendatang.
Harapannya, pembukaan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai persiapan musim tanam pertama 2026/2027, tetapi juga menyelamatkan tanaman padi yang berada di wilayah paling hilir, termasuk di sekitar Bendung Karet Kembang Kempis.
“Kami berharap airnya bisa disalurkan ke sungai terlebih dahulu sehingga bisa sampai ke Bendung Kembang Kempis, sehingga tanaman yang terancam tadi bisa terselamatkan,” paparnya.
Selain itu, upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga diharapkan mampu membantu penambahan pasokan air.
Hal tersebut dilakukan lantaran berdasar pada informasi dari BBWS Pemali Juana, persediaan air Waduk Kedungombo nantinya diperkirakan hanya cukup untuk melakukan pengairan selama sekitar dua bulan. Sementara itu, hujan diprediksi baru akan terjadi pada akhir November 2026 mendatang. (*)












