Berikut Tanggapan Sekolah di Pati Terkait Pungli

Pesantenanpati.com – Salah satu pihak sekolah negeri di Kabupaten Pati memberikan tanggapan terkait masalah pungutan liar yang kini tengah terjadi di salah satu sekolah wilayah provinsi Jawa Tengah.

Salah satunya sekolah yang memberikan tanggapan dan turut prihatin atas praktik pungli ini adalah SMA Negeri 1 Batangan.

Melalui Wakil Kepala SMA Negeri 1 Batangan, Fajar Arief Hartanto menyatakan bahwa praktik pungli tidak sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Jadi kalau masih ditemukan sekolah yg masih ada pungutan berarti tidak sesuai dengan kebijakan Pemprov jateng,” kata Fajar pada Sabtu (15/7/2023).

Pihaknya juga menilai bahwa sekolah negeri di Jawa Tengah, khususnya di SMA Negeri 1 Batangan sudah tidak ada pungutan apapun, dalam artian sekolah gratis.

Lebih lanjut, beberapa kategori yang disebut pungutan liar yakni seperti uang SPP, uang gedung, studytour, seragam sekolah, bahkan kotak infak pun ikut ditiadakan.

“Setau saya untuk sekolah kami dan SMA Negeri di Jawa Tengah pada umumnya sudah tidak ada pungutan apapun, sekolah gratis dan zero pungutan. Tidak ada SPP, uang gedung, tidak ada studytour, seragam bebas beli di toko, bahkan kotak infak musala juga ditiadakan,” lanjutnya.

BACA JUGA :   Perkiraan Cuaca Kabupaten Pati, Awas Hujan di Malam Hari

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Batangan, Isnaeni Tapa Astuti menyinggung terkait di setiap sekolah negeri saat ini sudah tidak ada iuran maupun pungutan liar khususnya saat perpisahan di SMA Negeri 1 Batangan.

“Kalau sejauh ini sekolah-sekolah negeri ya terutama ya, kalau swasta saya ndak tau. Tapi kalau sejauh pengamatan saya kalau sekolah-sekolah negeri itu masih dalam tarif yang normal. Kalaupun ada iuran itu kan artinya ada kepentingan siswa sendiri,” singgung Isnaeni.

“Jadi sekolah kalau secara organisasi itu tidak ada tarikan lah istilahnya. Biasanya anaknya sendiri yang pengen iuran. Sehingga tinggal anaknya sendiri yang komunikasinya ke orang tuanya itu bagaimana, dan biasanya kan orang tua taunya gratis selama ini eh taunya kok bayar jadi tergantung komunikasinya aja,” tutupnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *