Mahasiswa ITS Berhasil Temukan Alat Pendeteksi Dini Tsunami

anngnapadaterDenganPesantenanpati.com – Mahasiswa ITS ( Institut Teknologi Sepuluh November ) yang tergabung dalam Tim Sapu Jagad menemukan inovasi terkait alat pendeteksi dini bencana Tsunami.

Alat pendeteksi Tsunami ini berbasis infrasound Bernama Observatorium.

Indonesia sendiri sering mendapat ancaman Tsunami.

Hal tersebut tejadi karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera sehingga menyebabkan gempa bumi.

Dengan wilayah yang sangat terpengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami Tsunami.

Tsunami yang terjadi pada negara Indonesia sebagian besar oleh gempa-gempa tektonik sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya.

 

Alat Deteksi Tsunami

 

Lebih lanjut juru bicara Tim Mahasiswa Teknik Fisika ITS, Abdul Hadi menjelaskan bahwa Observatorium tersebut dapat mendeteksi tsunami. Dengan melalui infrasound atau suara dengan frekuensi rendah yang timbul dari adanya pergeseran lempeng bumi.

Abdul Hadi mengatakan dia menggagas alat tersebut bersama teman-temannya. Adalah Mohammad Naufal Al Farros, dan Nindya Eka Winasis dari Departemen Teknik Fisika ITS.

Tidak cukup sampai situ, Observatorium terdesain membentuk sebuah elemen segi lima yang nantinya akan ada pada atas tanah dan dengan jarak 1 – 3 kilometer antar elemen.

BACA JUGA :   Sebanyak 38 Rekening Bank Terkait dengan Pinjol Ilegal Bakal Diblokir

Setiap elemen juga memiliki sensor yang berfungsi untuk mendeteksi sumber infrasound yang timbul, serta filter noise reduction untuk meminimalkan adanya sinyal yang dapat mengganggu Observatorium mendeteksi lokasi pergeseran lempeng bumi atau gempa.

Selain memberikan inovasi dari segi alat, tim ini juga menyertakan rencana lokasi penempatan Observatorium pada negara Indonesia yakni Triangulasi Observatorium.

“Lokasi yang terpilih berdasarkan pada peta ring of fire, peta potensi bencana, peta batuan induk, dan perpotongan garis diagonal yang dibuat pada peta,” katanya.

Dari keempat landasan tersebut, tim Sapu Jagad akhirnya menentukan tiga titik lokasi yang direncanakan sebagai lokasi penempatan Observatorium, yaitu di Kota Malang, Padang, dan Palu.

Mahasiswa kelahiran tahun 2000 itu juga menyebutkan bahwa cara kerja alat ini terbagi menjadi tiga proses. Yaitu deteksi, asosiasi, dan lokalisasi.

Penemuan ini bermula Ketika para mahasiswa yang tergabung ke dalam tim Sapu Jagad ini menggagas ide cemerlang yang dituangkan pada cabang perlombaan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Penelitian ini berjudul Deteksi Dini Tsunami Menggunakan Sinyal Frekuensi Rendah (Infrasound) Berbasis Bayesian Infrasound Source Localization (BISL) dan Triangulasi Observatorium yang Ada di Indonesia.

BACA JUGA :   Sindir 3 Jenderal, Ganjar: Mencla-Mencle

Ketua Tim Sapu Jagad, Abdul Hadi menerangkan, inovasi yang digagas timnya ini berbeda dengan alat pendeteksi tsunami yang sudah ada.

 

Demikian info seputar penemuan mahasiswa ITS yang dapat mendeteksi Tsunami sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *