Bagaimana Tren Konsumsi dalam Ramadan 2025 di Era Digital?

Pesantenanpati.com – Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun di era digital seperti sekarang, pola konsumsi dan praktik ibadah masyarakat mulai mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Ramadan 2025 lalu telah berhasil menandai era di mana spiritualitas dan teknologi dapat berjalan berdampingan hingga membentuk gaya hidup baru yang serba praktis, cepat, dan terkoneksi.

Dari sisi konsumsi, data Bank Indonesia (BI) mencatat adanya peningkatan transaksi digital hingga 18 persen dibanding Ramadan tahun sebelumnya. Platform e-commerce dan layanan pesan antar makanan menjadi kanal utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan berbuka dan sahur.

Menu yang paling banyak dipesan tetap didominasi makanan tradisional seperti kolak, takjil, dan nasi campur, namun tren baru juga muncul, seperti makanan sehat rendah gula dan minuman berbasis matcha menjadi pilihan favorit generasi muda urban yang lebih sadar kesehatan.

Sementara itu, laporan dari Tokopedia Ramadan Insight (2025) menunjukkan peningkatan transaksi pada kategori fesyen muslim, parsel, dan kebutuhan dapur saat mendekati lebaran. Perbedaan justru terdapat pada masyarakat yang selektif dan cenderung mencari produk lokal.

BACA JUGA :   Apa itu Zakat Mal dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Dari sisi ibadah, digitalisasi juga memainkan peran penting. Aplikasi seperti MuslimPro, Umma, dan Qur’an Kemenag semakin populer, terutama untuk jadwal salat, tadarus digital, dan sedekah online.

Tren kajian virtual juga terus berkembang, di mana para ustaz dan penceramah memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube untuk menyebarkan dakwah dengan gaya yang lebih ringan dan relevan bagi anak muda.

Selain itu, Ramadan 2025 juga menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap digital fasting atau puasa media sosial. Banyak anak muda memilih membatasi penggunaan gadget di waktu tertentu demi fokus pada ibadah.

Tren konsumsi dan ibadah di Ramadan 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin adaptif terhadap perubahan. Teknologi tidak lagi menjadi penghalang spiritualitas, melainkan sarana yang membantu memperkuat nilai-nilai keimanan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *