Pesantenanpati.com – Selama cuaca ekstrem melanda, sejumlah wilayah Jawa Tengah mengalami bencana dari banjir hingga tanah longsor.
Bencana yang terjadi menyebabkan sejumlah kerusakan infrastruktur. Saat ini, dampak kerusakan infrastruktur di jalur Pantura baru dihitung.
“Banjir di Jawa Tengah memang sampai saat ini belum selesai semuanya. Untuk penanganan pascabencana, kami baru mulai menghitung dan memetakan,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Kerusakan terjadi tidak hanya terjadi di jalan nasional, tetapi juga di jalan kabupaten dan provinsi, akibat tingginya intensitas kendaraan yang melintas saat banjir.
“Kami sampaikan ke pemerintah pusat, jalur Pantura dari Rembang sampai Semarang itu belum kita hitung semuanya. Belum lagi dari Semarang ke arah barat,” paparnya.
Pihak Pemprov Jateng juga mengajukan anggaran untuk penanganan pembangunan dan peninggian tanggul.
“Kalau limpasan, berarti debit airnya tinggi. Ini artinya perlu peninggian tanggul atau normalisasi sungai,” jelasnya.
Menurutnya, penanganan semakin berat karena banjir terjadi bersamaan dengan musim rob, sehingga pembuangan air menjadi lebih sulit.
Pembangunan bendungan karet di Sungai Bremi Pekalongan menjadi salah satu kebutuhan mendesak, meski membutuhkan anggaran besar. Hal serupa direncanakan di wilayah hilir Kabupaten Pati.
Namun, Taj Yasin menegaskan pemasangan infrastruktur pengendali banjir harus melalui dialog dengan masyarakat, khususnya nelayan di sekitar Sungai Juwana.
“Kalau dipasang tanggul karet, kapal nelayan bisa tidak masuk. Ini tidak boleh langsung dipasang begitu saja, harus kita diskusikan dan libatkan masyarakat,” tegasnya.
Untuk penanganan darurat, Pemprov Jateng bersama BNPB telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Pantura, termasuk Pati dan Pekalongan. OMC telah berjalan sejak 15 Januari dan diperpanjang hingga 24 Januari, sambil menunggu perkembangan cuaca dari BMKG.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan, banjir masih terjadi di Kabupaten Pati, Kudus, dan Pekalongan. Kerugian yang ditimbulkan pun tidak sedikit.
Dalam situasi ini, BPBD menegaskan prioritas utama tetap keselamatan warga. Evakuasi terus dilakukan bersama TNI, Polri, relawan, dengan fokus pada kelompok rentan. Kebutuhan dasar pengungsi juga dipastikan terpenuhi.
“Pengungsian semua memakai bangunan fasos dan fasum, seperti sekolah, masjid, dan aula. Pangan didukung Kemensos, Dinsos, PMI, Baznas, dan masyarakat,” kata Bergas. (*)








