Banjir Berkepanjangan di Pekalongan, Alat Berat Dikerahkan untuk Normalisasi

Pesantenanpati.comBanjir berkepanjangan di Pekalongan dikeluhkan warga. Merespon hal tersebut, alat berat dikerahkan untuk penanganan darurat.

Alat berat dikerahkan untuk peninggian tanggul dan normalisasi sungai. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen turut memantau di lokasi. Banjir diketahui menggenangi Desa Mulyorejo, Tegaldowo, Karangjompo, dan Pacar hingga 17 hari.

“Yang dibutuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya alat berat untuk meninggikan tanggul. Ini bagian dari normalisasi sungai sekaligus membangun tanggul,” ujarnya.

Salah satu penyebab banjir berasal dari aktivitas di bantaran sungai. Pemanfaatan bantaran secara tidak terkendali, kata wagub, menyebabkan penurunan elevasi tepi sungai, sehingga saat hujan deras, air mudah melimpas.

Warga Desa Tegaldowo, Harmonis mengaku, berinisiatif mengadu lantaran tahu Wagub Jateng sedang berkunjung ke Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an, Jetak Kidul, Wonopringo, Kabupaten Pekalongan.

“Telepon pertama tidak diangkat, kemudian beliau menelepon balik,” ungkapnya.

Menurut Harmonis, tanggul sungai membutuhkan peninggian agar tidak banjir lagi. Kepala Desa Tegaldowo, Budi Junaidi, menjelaskan dampak banjir berdampak pada terganggunya aktivitas warga.

BACA JUGA :   Pemprov Berikan Bantuan Rp180 Juta pada Korban Kebakaran Sumur Minyak

“Kami minta Sungai Sengkarang segera dinormalisasi, karena luapan airnya banyak berasal dari sana,” ujar dia.

Sementara itu, relawan setempat, Muhammad Nizar menyebut, banjir dipicu kombinasi beberapa faktor. Selain hujan lokal, terdapat kiriman debit air besar dari wilayah selatan, serta limpasan Sungai Sengkarang. Kondisi rob di pesisir juga memperparah situasi, karena menghambat pembuangan air ke laut.

Ia menambahkan, meskipun pompa banjir telah dioperasikan, kapasitasnya belum mampu mengimbangi besarnya volume air.

“Pompa jalan terus, tapi debit airnya terlalu besar. Jadi belum bisa mengatasi seratus persen,” ujarnya.

Relawan bersama warga, telah membentuk posko dan memprioritaskan evakuasi kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak.

“Kelompok rentan kami evakuasi, sementara pemuda bertahan untuk menjaga rumah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *