Penyelundupan Etomidate dari Malaysia Berhasil Digagalkan, Lab Rahasia Ada di Jakarta Utara

Pesantenanpati.com – Penyelundupan narkotika jenis Etomidate dari Malaysia berhasil digagalkan. Polisi juga mengungkapkan keberadaan laboratorium rahasia di Jakarta Utara.

Laboratorium tersebut sebenarnya merupakan apartemen yang dipakai memproduksi vape yang mengandung Etomidate.

Direktur Tipidnarkoba Bareskrim Polri Irjen Pol Eko Hadi Santoso mengatakan bahwa kasus melibatkan jaringan lintas negara.

Sedangkan tujuh orang diamankan diantaranya lima warga negara Malaysia, satu warga negara Indonesia, dan satu warga negara Tiongkok.

Kasus bermula dari penindakan terhadap lima WNA Malaysia oleh petugas DJBC Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta pada Jumat (25/9/2026).

Mereka yakni Mohammad Zulhusni bin Ab Salin, Nur Aisyah binti Abdullah, Emanuel bin Harry, Prince Alvin Robin, dan Muhammad Adam bin Julle, diduga berperan sebagai kurir.

Saat di Kuala Lumpur, petugas Bea Cukai menemukan masing-masing dua bungkus serbuk yang diduga Etomidate pada kelima WNA tersebut yang disembunyikan di bagian insole sepatu yang mereka kenakan.

“Secara keseluruhan ditemukan 10 bungkus dengan berat bruto 5 kg. Serbuk tersebut diuji laboratorium oleh Bea Cukai positif mengandung Etomidate,” paparnya.

BACA JUGA :   Puncak Arus Mudik Nataru Diprediksi Terjadi pada 21 Desember 2024

Mereka mengaku diperintahkan perempuan yang dikenal sebagai Madam. Mereka berkomunikasi lewat Telegram.

Sampai di Jakarta, mereka diarahkan berkumpul di Yello Hotel Harmoni untuk mengumpulkan sepatu berisi Etomidate ke dalam sebuah koper berwarna merah. Koper tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Wu Song, WNA Tiongkok yang diduga berperan sebagai kurir sekaligus menguasai clandestine lab.

Penyidik kemudian mengembangkan informasi tersebut dan mengamankan Wu Song. Dari tangannya, polisi menemukan kunci sebuah unit apartemen di Mediterania Marina Residence, Jakarta Utara.

Penggeledahan di apartemen tersebut mengungkap sejumlah peralatan dan perlengkapan yang diduga digunakan untuk memproduksi vape mengandung Etomidate. Polisi juga menemukan bahan baku cair, cartridge kosong, kemasan, serta berbagai perlengkapan lainnya.

“Wu Song ini berada di Indonesia sejak 19 September 2026 dan tinggal di unit apartemen tersebut,” ujarnya.

Wu Song mengaku mendapat arahan melalui grup komunikasi bernama “SIGNAL” untuk melakukan pencatatan stok barang yang berada di apartemen. Ia juga diperintahkan mengambil Etomidate yang disimpan dalam koper di kawasan Yello Hotel Harmoni pada Jumat (25/9/2026).

BACA JUGA :   Penyaluran Bansos Capai 75 Persen hingga Pertengahan September

Dari pemeriksaan, Mohammad Zulhusni bin Ab Salin dan Nur Aisyah binti Abdullah diketahui sebelumnya telah dua kali menerima pekerjaan pengiriman Etomidate.

Pengiriman pertama dilakukan dari Malaysia menuju Tokyo dengan bayaran RM7.000. Kedua dari Malaysia menuju Indonesia dengan bayaran RM9.000. Sedangkan Emmanuel bin Harry, Prince Alvin Robin, dan Muhammad Adam bin Julle pertama kali mendapatkan pekerjaan itu.

Wu Song awalnya datang ke Indonesia pada 19 September 2026 untuk berlibur. Ia kemudian dihampiri pria yang memperkenalkan diri sebagai Qing dan menawarkan tempat tinggal gratis di apartemen tersebut.

Ia mendapat tugas mencatat stok barang yang tersedia, termasuk jeriken berisi cairan, cartridge kosong, dan berbagai kemasan. Informasi tersebut kemudian dilaporkan melalui grup komunikasi.

“Wu diberi upah 4.000 RM atau sekitar Rp10 juta,” ungkap Eko.

Polisi menemukan 85.000 mililiter bahan baku cair. Dengan asumsi setiap pod berukuran 2 mililiter, bahan tersebut secara teoritis berpotensi menghasilkan sekitar 42.500 pod.

Berdasarkan asumsi harga jual Rp3 juta per pod, nilai ekonomisnya diperkirakan mencapai Rp127,5 miliar.

BACA JUGA :   TPS di Balongan Indramayu Terbakar, Asap Tebal Membumbung Tinggi

“Berdasarkan penghitungan sementara tersebut, barang bukti diperkirakan berkaitan dengan potensi beredarnya sekitar 42.400 pods mengandung Etomidate, dengan estimasi penyelamatan sekitar 21.250 jiwa,” ujarnya.

Polisi juga mengamankan Satria Surya Sumantri, WNI yang diduga berperan sebagai sopir. Sementara lima WNA Malaysia diduga berperan sebagai kurir.

Polisi masih mendalami siapa “Madam” dan “Qing”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *