Atlet Terjun Payung Meninggal Usai Jatuh di Perairan Bojonglawe Pangandaran

Pesantenanpati.com – Atlet terjun payung meninggal dunia usai jatuh di perairan Bojonglawe, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Korban bernama Widiasih (58) ditemukan meninggal dunia di Pantai Karapyak pada Jumat (2/1/2025) sekitar pukul 07.00 WIB oleh nelayan pencari keong asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

“Informasi awal diterima dari nelayan. Tim SAR gabungan langsung bergerak menuju lokasi penemuan,” ujar Kapolres Pangandaran, AKBP Andri Kurniawan dilansir dari Kompas.

Proses evakuasi berlangsung sekitar 1,5 jam perjalanan laut. Sekitar pukul 09.30 WIB, jenazah berhasil dibawa ke pesisir Pantai Batukaras dan dievakuasi menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Pandega Pangandaran untuk penanganan medis lebih lanjut.

“Alhamdulillah hari keempat pencarian, Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban kecelakaan terjun payung,” ujar Dirpolairud Polda Jabar, Kombes Pol Edward Indharmawan Eka Chandra.

Diketahui, korban bersama empat orang lainnya mengikuti kejuaraan daerah terjun payung di Jawa Barat. Mereka melakukan atraksi 4-Way Formation Skydiving dari ketinggian 9.000 kaki.

Penerjunan dilakukan di atas laut dengan jarak sekitar 3,4 kilometer dari drop zone dan kurang lebih 2 kilometer dari pesisir daratan terdekat. Tim berhasil membentuk formasi dengan baik.

BACA JUGA :   Tunjangan ASN Kementerian ESDM Naik 100 Persen

“Satu penerjun melakukan break off pada ketinggian sekitar 4.000-4.500 kaki, namun 3 penerjun lain masih membentuk formasi,” kata Kordinator Pos SAR Pangandaran, Edwin Purnama.

Tiga penerjun membuka parasut, termasuk kameraman bernama Mustafa. Kameraman terlihat membuka parasut di sekitar 3.000 kaki dan mengembang sempurna di 2.500 kaki.

Sedangkan tiga penerjun lainnya membuka parasut di bawah ketinggian kameramen dengan perbedaan ketinggian yang tidak diketahui secara pasti.

Tiga berhasil mendarat di pesisir pantai, yaitu Mustafa, Kudlori, dan Karni. Sedangkan dua penerjun lainnya, Rusli dan Widiasih, terjatuh di Perairan Bojongsalawe. Diduga karena ada perubahan arah angin yang signifikan pada ketinggian sekitar 10.000 kaki. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *