110 Lebih Anak Jadi Korban Perekrutan Jaringan Teroris Lewat Medsos hingga Game Online

Pesantenanpati.comSebanyak 110 lebih anak dari 26 provinsi tercatat menjadi korban perekrutan jaringan teroris melalui media sosial, game online, hingga platform komunikasi tertutup. Dari jumlah tersebut, mayoritas berasal dari Jakarta dan Jawa Barat.

Hal itu sebagaimana yang disampaikan oleh Polri. Juru bicara Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan bahwa lima orang telah ditetapkan menjadi tersangka diantaranya FW alias YT (47); LM (23); PP alias BMS (37); MSPO (18); JJS alias BS (19). Mereka ditangkap dari tiga kali pengungkapkan kasus sejak 2024.

“Dalam setahun ini ada lima tersangka (dewasa) yang sudah diamankan oleh Densus 88,” ujarnya dilansir dari Detik.

Sebanyak 110 anak tersebut direkrut pada tahun 2025.

“Pada tahun ini, di tahun 2025 sendiri, seperti kurang lebih lebih dari 110 (anak dan pelajar yang saat ini sedang teridentifikasi),” jelasnya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bahwa lima tersangka merekrut dan mengendalikan komunikasi kelompok melalui medsos.

BACA JUGA :   Simak, Jasa Dorong Kursi Roda Jamaah Haji Lansia Diperketat

“Atas peranannya merekrut dan memengaruhi anak-anak tersebut supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme dan melakukan aksi teror,” paparnya.

Pada tahun 2011-2017 itu Densus 88 mengamankan kurang lebih 17 anak, sedangkan tahun ini 110 anak yang teridentifikasi. Sehingga disimpulkan jika perekrutan yang dilakukan sangat masif.

“Jadi artinya kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” terangnya.

Propaganda awal disebut disebar melalui media sosial hingga game online.

“Jadi, tentunya yang di platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia yang mungkin bagi anak-anak itu bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik,” tutur Mayndra.

“Seperti tadi disebutkan oleh Pak Dirjen dari Komdigi, ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kita ini ya, bermain game online. Nah di situ mereka juga ada sarana komunikasi chat, gitu ya. Ketika di sana terbentuk sebuah komunikasi, lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus, yang lebih terenkripsi, yang lebih tidak bisa terakses oleh umum,” lanjutnya.

BACA JUGA :   36 Komunitas Jaranan Kota Malang Ramaikan Festival di Akhir Pekan

Setelah dinilai potensial, anak-anak akan dikumpulkan dalam satu platform khusus seperti WhatsApp dan Telegram. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *