Pesantenanpati.com – Minyak jelantah merupakan sebutan dari minyak goreng yang sudah digunakan berulang kali. Bentuknya ditandai dengan warnanya yang sudah berubah menjadi cokelat tua hingga kehitaman, ditambah dengan bau tengik akibat proses oksidasi alias pemanasan yang berulang-ulang.
Beberapa makanan yang digoreng menggunakan minyak jelantah akhirnya juga memiliki rasa yang juga cenderung tengik. Hal lain yang terjadi dari makanan yang digoreng dengan minyak jelantah juga menghasilkan nilai gizi yang menurun, bahkan dapat berbahaya bagi kesehatan.
Dilansir dari tempo.co menjelaskan bahwa ketika minyak nabati dipanaskan secara berulang, maka akan terjadi proses oksidasi yang menghasilkan radikal bebas dan senyawa toksik yang dapat meracuni tubuh manusia.
Radikal bebas ini bersifat sangat reaktif terhadap tubuh yang mampu menimbulkan perubahan kimiawi dan merusak berbagai komponen sel hidup di dalam tubuh, seperti protein, gugus nonprotein, lipid, karbohidrat, hingga nukleotida.
Efek yang lebih buruk dari radikal bebas menghasilkan zat destruktif yang akan menghancurkan sel secara perlahan. Seiring bertambahnya usia, efek ini akan semakin terasa yang ditandai dengan rentannya terkena stres oksidatif dan mengalami kerusakan sel.
Beberapa penyakit yang diakibatkan dari konsumsi minyak jelantah diantaranya adalah penyakit kardiovaskular yang muncul akibat tersumbatnya arteri jantung, penyakit yang berhubungan dengan sistem imun seperti rheumatoid arthritis dan kanker.
Selain itu, terjadi pula munculnya penyakit yang menyerang sistem saraf pusat (otak maupun sumsum tulang belakang) seperti Alzheimer dan demensia, katarak dan penurunan kemampuan indera penglihatan, penuaan dini yang ditandai dengan kulit keriput, kusam, rambut memutih atau rontok hingga penyakit genetik, seperti Huntington atau Parkinson. (*)













