Kegiatan Belajar Mengajar di Pati Terganggu Sebab Banjir

Pati, Pesantenanpati.com – Kegiatan belajar mengajar di Pati terganggung lantaran adanya banjir. Hal ini pun membuat puluhan sekolah terpaksa meliburkan siswanya.

“Memang ada sejumlah sekolah yang terdampak banjir, namun KBM tetap berjalan, meski itu tidak dengan tatap muka, tapi dengan sistem blended learning,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) SD Disdikbud Kabupaten Pati, Sa’Dun belum lama ini.

Menurutnya, pembelajaran dengan blended learning adalah pembelajaran dengan sistem online dan offline, artinya meski sekolah terdampak bencana banjir, namun untuk KBM harus tetap berjalan.

“Bukan hanya sekolah, namun bapak atau ibu guru termasuk siswa, yang terdampak, sistem blended learning juga harus dijalankan, sehingga tidak ada alasan bahwa layanan pendidikan akan berhenti, dan siswa tetap terlayani pembelajarannya,” ujar Sa’Dun.

Ia menambahkan, pihaknya ingin ada jaminan bahwa layanan pendidikan tidak terhenti karena dampak bencana, karena dengan sistem digitalisasi ini, sistem KBM bisa dilaksanakan dengan berbagai cara.

“Sudah ada beberapa sekolah yang melaporkan melaksanakan sistem blended learning, misalnya, di SD Jongso, SD Poncomulyo, SD Sunggingwarno, SD Bungasrejo, SD Ngastorejo, SD Tondokerto dan sejumlah lain,”Katanya.

BACA JUGA :   Terendam Banjir Jalan Pati Selatan Makin Hancur, Begini Tanggapan Komisi A

Sekolah SD yang terdampak banjir tidak sebanyak pada bencana banjir sebelumnya, hanya ada beberapa saja, misalnya kawasan Gabus, Jakenan, Pati, Juwana dan beberapa daerah lain.

“Berdasarkan laporan dari Korwil, ada sekitar 30 SD yang terdampak, dan semua dalam kondisi aman, karena sudah kami antisipasi dengan tindakan preventif, untuk siaga mengamankan, dan sekolah yang melaksanakan blenderld learning saat ini hanya tinggal 10 sekolah saja,”Terangnya.

Hal senada juga disampaikan Kabid SMP Disdikbud Kabupaten Pati Fauzin Futiarso. Menurutnya, Untuk SMP yang terdampak banjir hanya di SMP 2 Gabus, sedangkan untuk SMP 2 Jakenan, sekolahnya tidak tergenang, namun akses menuju sekolah yang masih banjir.

“Di SMP 2 Gabus, beberapa kelas kemasukan air, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan KBM, dan siswa terpaksa harus melakukan pembelajaran dengan sistem daring atau blended learning,” ucapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *