Dosen Unkriswina Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Seksual pada Mahasiswi

Pesantenanpati.com – Dosen Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) diperiksa terkait dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya.

Dosen berinisial RAL itu diduga melakukan aksi bejat terhadap korban JMS (20) saat mengerjakan laporan.

Pemeriksaan terhadap RAL pun dilakukan di Mapolres Sumba Timur pada Selasa (2/6/2026).

“Oh, itu sudah diperiksa oleh anggota PPA pada Selasa kemarin. Ini masih marathon pemeriksaannya,” ujar Kapolres Sumba Timur AKBP Gede Harimbawa dilansir dari Detik.

Kasus ini pun akan naik ke tahap penyidikan setelah pemeriksaan dilakukan. Diperkuat dengan hasil visum.

“Jadi setelah diperiksa seluruhnya, termasuk terlapor baru naik penyidikan,” jelas Gede.

Kanit PPA Polres Sumba Timur Iptu Ahmad Furqon mengatakan, dosen ilmu hukum tersebut datang bersama dengan pengacaranya.

“Soalnya masih dalam proses penyelidikan pengembangan kami. Nanti kami sampaikan setelah semuanya sudah beres,” ungkap Ahmad.

Sudah ada enam orang dalam kasus tersebut yang diperiksa diantaranya lima saksi dan satu terlapor. Polisi juga berencana memanggil sejumlah saksi lain untuk dimintai keterangan.

BACA JUGA :   Sinkhole di Area Sawah Gunungwungkal Semakin Melebar dan Dalam

“Jadi sudah lima saksi dan satu terlapor yang kami sudah mintai keterangannya,” pungkas Ahmad.

Sebelumnya, polisi mengungkap dugaan modus pelecehan seksual yang dilakukan RAL terhadap JMS. Dugaan pelecehan itu terjadi di rumah RAL di Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT.

“Untuk sementara dari korban mengatakan bahwa awalnya dosen tersebut mengajak korban ke rumahnya untuk membantu buat laporan,” paparnya.

Ahmad mengungkapkan RAL diduga memegang tangan hingga mencium mahasiswi tersebut. Korban disebut tidak berani melawan karena takut.

Setelah beberapa hari, RAL kembali menelepon JMS dan memintanya datang lagi ke rumahnya. Saat itu, JMS kembali diduga mengalami pelecehan seksual. RAL disebut memegang bagian sensitif tubuh korban.

“Korban juga tidak memberitahukan kepada siapa pun karena takut, sehingga terjadi lagi sampai dengan terakhir pada 25 Mei 2026 itu,” paparnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *