Pesantenanpati.com – Bulan Muharram menempati posisi istimewa dalam kalender Hijriah. Sebagai salah satu dari empat bulan haram, Muharram dipandang sebagai waktu yang mulia dan sarat nilai spiritual bagi umat Islam.
Pada bulan ini, berbagai amalan sunnah dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan, salah satunya adalah puasa sunnah. Puasa di bulan Muharram tidak hanya bernilai ibadah personal, tetapi juga mengandung makna mendalam dalam pembentukan karakter dan ketakwaan seorang Muslim.
Melansir dari NU Online, puasa sunnah di bulan Muharram, terutama pada hari Asyura dan Tasu’a, memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW, salah satunya dari riwayat Muslim.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Puasa ini dimaknai sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kezaliman Fir’aun.
Dalam konteks ini, puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi simbol rasa syukur, ketaatan, serta pengingat akan kekuasaan Allah dalam menegakkan keadilan.
Secara spiritual, puasa sunnah di bulan Muharram menjadi sarana refleksi diri di awal tahun Hijriah. Momentum ini sering dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki niat, dan memperkuat komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dengan menahan hawa nafsu, seseorang dilatih untuk lebih sabar, disiplin, dan mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Selain itu, puasa sunnah di bulan Muharram menjadi bentuk nyata kecintaan umat Islam terhadap sunnah Rasulullah SAW.
Konsistensi dalam menjalankan amalan sunnah menunjukkan kesungguhan seorang Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, tidak hanya melalui kewajiban, tetapi juga melalui ibadah tambahan yang bernilai pahala besar.
Amalan ini menjadi pintu awal untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih, niat yang lurus, dan semangat memperbaiki diri secara berkelanjutan. (*)







