Pesantenanpati.com – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di Jawa Tengah sejak Januari hingga 19 Desember 2025, berhasil mengumpulkan omzet sebesar Rp45,7 miliar.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mengatakan, program tersebut merupakan upaya menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan di wilayahnya.
“Melalui kegiatan ini, total omzetnya Rp45,7 miliar,” kata Taj Yasin.
Komoditas yang dijual dalam GPM biasanya beras, jagung, minyak, daging, dan bahan pokok lain yang saat itu harganya melonjak.
Melalui GPM, masyarakat bisa mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Di sisi lain, bahan pokok yang dibeli Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari petani ini, juga bisa memberikan harga yang layak.
Melalui program ini, harapannya bisa mengintervensi harga-harga yang berpotensi melonjak di pasaran.
“Tentu penyaluran subsidi pangan ini sangat bermanfaat,” ucap pria asal Kabupaten Rembang tersebut.
Terlebih, kata wagub, GPM penting menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Melalui program itu, pemerintah menyiapkan skema untuk mengendalikan inflasi di wilayahnya maupun harga-harga bahan pokok.
Lebih lanjut, dia mengajak masyarakat untuk menyambut nataru dengan rasa aman, tenang, dan penuh sukacita, tanpa kekhawatiran sama sekali terhadap ketersediaan dan harga bahan pangan.
“Kita bisa melihat Gudang (Perum) Bulog kita, masih aman terkendali. Insyaallah ketersediaan pangan mencukupi,” ungkap Taj Yasin.
Menurutnya, sejauh ini, produksi pangan di Jawa Tengah tetap surplus. Provinsi ini mampu menyumbang ketahanan pangan nomor dua terbesar secara nasional. (*)













