Jadwal Puasa Ramadan 2026 antara Muhammadiyah dan NU

Pesantenanpati.com – Memasuki bulan Syaban tahun 1447 Hijriah, umat Islam yang ada di seluruh dunia sebentar lagi akan menyambut bulan suci Ramadan. Di Indonesia, dua organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sering memiliki awal pelaksanaan puasa Ramadan yang berbeda.

Melansir dari CNBC Indonesia, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengeluarkan pengumuman resmi terkait dengan jadwal 1 Ramadan 1447 Hijriah yang akan jatuh pada Rabu (18/01/2026).

Jadwal lengkap yang meliputi Hari Raya Idul Fitri juga telah dirilis dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) terbaru dengan metode hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal. Metode ini berpatokan dengan terbenamnya Matahari terlebih dahulu daripada Bulan, meski hanya berjarak satu menit bahkan kurang.

Metode hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal ini disebut mampu memungkinkan pihaknya untuk dapat menentukan awal bulan puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang masuk bulan Syawal dari jauh-jauh hari.

Kemudian, hasil keputusan dari metode tersebut ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, berdasar pada sebuah peninjauan dari data astronomis global dan validasi parameter KHGT.

BACA JUGA :   Gas LPG 12 Kilogram Meledak di Blitar, Lansia Alami Luka Bakar

Untuk itu, Hari Raya Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah diketahui akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Sementara di sisi lain, potensi perbedaan masuknya awal bulan puasa Ramadan terlihat dari keputusan yang diambil oleh ormas NU yang dalam hal ini dijadikan patokan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), karena metode perhitungannya berbeda.

Meski sama-sama menggunakan kalender Qomariyah, Kemenag dan NU diketahui menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan pengamatan visibilitas hilal, yaitu penampakan bulan sabit yang pertama kali terlihat setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Selain itu, metode juga tidak luput dari adanya hisab atau perhitungan untuk mempertimbangkan rumus astronomis yang telah disepakati. Hasil keputusan baru bisa keluar sesaat setelah metode tersebut dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia di waktu yang disepakati.

Kesepakatan akan dibahas dalam forum bernama sidang isbat sebagai bentun penentuan sudah masuk atau tidaknya kepada bulan baru, yang selanjutnya dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat untuk memulai ibadah puasa maupun Hari Raya. (*)

BACA JUGA :   Tempat Hiburan Malam Tak Berizin di Langkat Ditertibkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *